HOME
Home » AGAMA ISLAM » MACAM-MACAM TRANSAKSI EKONOMI DALAM ISLAM

MACAM-MACAM TRANSAKSI EKONOMI DALAM ISLAM

Posted at July 23rd, 2018 | Categorised in AGAMA ISLAM

MACAM-MACAM TRANSAKSI EKONOMI DALAM ISLAM (Mu’āmalah) hal-hal yang termasuk urusan kemasyarakatan (pergaulan, perdata, dsb). Sementara dalam fiqh Islam berarti tukar menukar barang atau sesuatu yang memberi manfaat dengan cara yang ditempuhnya, seperti jual-beli, sewa menyewa, upah-mengupah, pinjammeminjam, urusan bercocok tanam, berserikat, dan usaha lainnya.

Islam melarang beberapa hal di antaranya seperti berikut.

  1. Tidak boleh mempergunakan cara-cara yang batil.
  2. Tidak boleh melakukan kegiatan riba.
  3. Tidak boleh dengan cara-cara ẓāl³m (aniaya).
  4. Tidak boleh mempermainkan takaran, timbangan, kualitas, dan kehalalan.
  5. Tidak boleh dengan cara-cara spekulasi/berjudi.
  6. Tidak boleh melakukan transaksi jual-beli barang haram
  7. Jual-Beli

Jual-beli menurut syariat agama ialah kesepakatan tukar-menukar benda untuk memiliki benda tersebut selamanya. Melakukan jual-beli dibenarkan, sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:

Artinya:”… dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (Q.S. al-Baqarah/2: 275).

Apabila jual-beli itu menyangkut suatu barang yang sangat besar nilainya, dan agar tidak terjadi kekurangan di belakang hari, al-Qur’ãn menyarankan agar dicatat, dan ada saksi, lihatlah penjelasan ini pada Q.S. al-Baqarah/2: 282.

Di dalam sunnah, dituturkan dari Jumai’ bin ‘Umair dari pamannya, bahwasanya pamannya berkata, yang artinya:

“Nabi Saw pernah ditanya tentang perolehan yang paling utama, maka beliau berkata, “Jual beli yang mabrur dan hasil usaha yang didapatkan dari jerih payah tangan sendiri”. [HR Imam Ahmad]

  1. Syarat-Syarat Jual-Beli

Syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam Islam tentang jual-beli adalah sebagai berikut.

a) Penjual dan pembelinya haruslah:

  1. ballig,
  2. berakal sehat,
  3. atas kehendak sendiri.

b) Uang dan barangnya haruslah:

  1. halal dan suci. Haram menjual arak dan bangkai, begitu juga babi dan berhala, termasuk lemak bangkai tersebut
  2. Membeli barang-barang yang tidak bermanfaat sama dengan menyia-nyiakan harta atau pemboros. Artinya: “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”(Q.S. al-Isrā’/17: 27)
  3. Keadaan barang dapat diserahterimakan. Tidak sah menjual barang yang tidak dapat diserahterimakan. Contohnya, menjual ikan dalam laut atau barang yang sedang dijadikan jaminan sebab semua itu mengandung tipu daya.
  4. Keadaan barang diketahui oleh penjual dan pembeli.
  5. Milik sendiri, sabda Rasulullah saw., “Tak sah jual-beli melainkan atas barang yang dimiliki.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

c) Ijab Qobul

Seperti pernyataan penjual, “Saya jual barang ini dengan harga sekian.”Pembeli menjawab, “Baiklah saya beli.” Dengan demikian, berarti jual-beli itu berlangsung suka sama suka. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya jual-beli itu hanya sah jika suka sama suka.” (HR. Ibnu Hibban).

  1. Pinjam Meminjam (Al-Qirad)

memberikan (meminjamkan) harta kepada orang lain agar peminjam bisa memanfaatkan harta tersebut, lalu dikembalikan setelah peminjam mampu membayarnya. Qira (memberikan pinjaman) kepada orang lain termasuk aktivitas mendekatkan diri kepada Allah Swt yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sebab, dengan qira seseorang bisa membantu orang lain yang sedang membutuhkan.

Qirad baru dianggap absah jika memenuhi rukun-rukunnya. Rukun qirad adalah sebagai berikut:

  • Pemberi pinjaman
  • Penerima pinjaman
  • Harta yang dipinjamkan
  • Ijab qabul

Bila orang yang berpiutang meminta tambahan pengembalian dari orang yang melunasi utang dan telah disepakati bersama sebelumnya, hukumnya tidak boleh. Tambahan pelunasan tersebut tidak halal sebab termasuk riba. Orang yang telah mampu membayar hutang diharamkan menunda-nunda pembayaran hutangnya. Pasalnya perbuatan seperti ini termasuk kezaliman. Nabi Saw bersabda, yang artinya:

“Menunda-nunda pembayaran bagi yang mampu membayar adalah kedzaliman. Apabila salah seorang iantara kamu, piutangnya dialihkan pembayarannya kepada orang kaya, maka hendaknya ia terima pengalihan utang tersebut”. [HR Mutafaq ‘alaih dari Abu Hurairah].

Apabila orang membayar utangnya dengan memberikan kelebihan atas kemauannya sendiri tanpa perjanjian sebelumnya, kelebihan tersebut halal bagi yang berpiutang, dan merupakan suatu kebaikan bagi yang berutang.

  1. Gadai (Ar-Rahn)

Menjadikan harta yang memiliki nilai dalam pandangan syariat sebagai jaminan atas hutang, agar pemilik hutang bisa membayar hutangnya dengan harga dari barang jaminan tersebut jika ia tidak bisa membayar hutangnya tepat pada waktu penunaiannya.

Rahn (gadai) baru dianggap absah jika telah memenuhi rukun-rukun rahn. Rukunnya, yaitu:

  • Pemberi jaminan (rāhin) dan penerima jaminan (murtahin)
  • Barang yang digadaikan.
  • Ijab qabul (perkataan serah terima).

Ketentuan-ketentuan yang Berhubungan dengan Ar-rahn

  • Barang yang digadaikan harus diserahterimakan pada saat aqad rahn itu dilangsungkan.
  • Dalam kasus jual beli kredit barang, maka barang yang dibeli dengan kredit tersebut tidak boleh dijadikan sebagai agunan.
  • Pada masa jahiliyyah, jika ar-r hin tidak mampu membayar hutang atau barang yang dibelinya secara kredit, tepat pada waktunya, maka barang agunan tersebut langsung menjadi milik al-murtahin. Praktik ini diharamkan oleh Nabi Saw. jika ar-râhin tidak mampu membayar hutangnya, atau tidak mampu membayar harga barang yang dibelinya secara kredit, maka, murtahin berhak menjual barang agunan tersebut. Jika harga barang agunan itu lebih besar daripada hutang ar-r hin, maka kelebihannya harus dikembalikan kepada ar-r hin. Namun, jika harga barang agunan tersebut lebih rendah daripada hutangnya, maka ar-râhin wajib menutupi kekurangannya.
  • Setelah serah terima barang agunan berada di bawah kekuasaan al-murtahin. Tetapi, murtahin tidak boleh memanfaatkan barang agunan tersebut.
  • Almurtahin boleh memanfaatkan barang agunan tersebut atas ijin dari ar-râhin
  1. Syirkah Muḍārabah (Kerja Sama Modal Usaha)

suatu akad yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang bersepakat untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan memperoleh keuntungan. Singkatnya, kerja sama dengan bentuk modal atau jasa keahlian yang keuntungan atau kerugiannya akan ditanggung bersama.

Rukun dan syarat syirkah:

  • Dua belah pihak yang berakad (‘aqidani). Syarat orang yang melakukan akad adalah harus memiliki kecakapan (ahliyah) melakukan taṡarruf (pengelolaan harta).
  • Objek akad yang disebut juga ma’qud ‘alaihi mencakup pekerjaan atau modal. Adapun syarat pekerjaan atau benda yang dikelola dalam syirkah harus halal dan diperbolehkan dalam agama dan pengelolaannya dapat diwakilkan.
  • Akad atau yang disebut juga dengan istilah ṡigat. Adapun syarat sah akad harus berupa taṡarruf, yaitu adanya aktivitas pengelolaan.
  • modal harus diserahkan kepada pengelola ketika aqad syirkah dilakukan. Jika aqad syirkah dilakukan tetapi modal belum diserahkan, maka syirkah tersebut tidak sah.
  • pembagian keuntungan antara pemodal dan pengelola haruslah jelas,
  • pemodal tidak diperkenankan mengelola syirkah atau modal. Hanya pengelola saja yang berhak mengelola syirkah dan modal. Sebab, syirkah mudarabah adalah syirkah antara modal dengan badan pengelola, bukan syirkah antara badan pengelola dengan badan pemodal.
  • lama waktu syirkah dan kapan bagi hasil dilakukan haruslah jelas.

5. Sewa-menyewa (Ijarah)

Imbalan yang harus diterima oleh seseorang atas jasa yang diberikannya. Jasa di sini berupa penyediaan tenaga dan pikiran, tempat tinggal, atau hewan.

Syarat dan Rukun Sewa-menyewa

  • Yang menyewakan dan yang menyewa haruslah telah ballig dan berakal sehat.
  • Sewa-menyewa dilangsungkan atas kemauan masing-masing, bukan karena dipaksa.
  • Barang tersebut menjadi hak sepenuhnya orang yang menyewakan, atau walinya.
  • Ditentukan barangnya serta keadaan dan sifat-sifatnya.
  • Manfaat yang akan diambil dari barang tersebut harus diketahui secara jelas oleh kedua belah pihak.
  • Waktu, harga sewa dan cara pembayarannya juga harus ditentukan dengan jelas serta disepakati bersama

 

 

Tags :