HOME
Home » AGAMA ISLAM » PROSEDURE MENIKAH YANG BAIK DAN BENAR

PROSEDURE MENIKAH YANG BAIK DAN BENAR

Posted at July 25th, 2018 | Categorised in AGAMA ISLAM

PROSEDURE MENIKAH YANG BAIK DAN BENAR

PROSEDURE MENIKAH YANG BAIK DAN BENAR perlu diketahui untuk meperlancar jalannya pernikahan, pengetahuan mendasar bagi yang ingin menikah. Untuk memperdalam pengetahuan , teman-teman juga bisa langsung datang ke KUA atau MUI terdekat. Hukum menikah ialah sunah muakkad, tapi dapat berubah sesuai dengan keadaan serta niat seseorang. Akan tetapi, bila diniatkan buat sebuah yang buruk, hukumnya menjadi makruh, bahkan haram.

A.Rukun Nikah

Rukun nikah merupakan hal-hal yang sesegera mungkin dipenuhi supaya pernikahan menjadi sah. bila hal-hal tersebut tak terpenuhi bermakna pernikahan dikata belum terjadi.

Rukun nikah sebagai berikut

  • Ada mempelai yang akan menikah
  • Ada wali yang menikahkan
  • Ada ijab serta qabul dari wali serta mempelai laki-laki
  • Ada dua saksi pernikahan tersebut

B. Syarat Nikah

Selain mempunyai rukun, pernikahan juga adanya syarat-syarat terdefinisi jelas sebagai berikut:

  1. Calon Suami sudah Baliq serta Berakal
  2. Calon Istri yang Halal Dinikahi (BUKAN MASIH DALAM PERNIKAHAN/ CALON ORANG)
  3. Lafal Ijab serta Kabul sesegera mungkin Bersifat Selamanya
  4. Dua Orang Saksi (Cakap bertindak secara hukum, balig serta berakal, minimal dua orang, Laki-laki, merdeka. orang yang adil, muslim, bisa melihat)
  5. Identitas Pelaku Akad Diungkapkan Secara Jelas
  6. Wali sesegera mungkin Memenuhi Syarat (laki-laki, balig serta berakal sehat,beragama Islam,merdeka, mempunyai hak perwalian, tak adanya halangan buat menjadi wali, serta adil)

C. Hikmah Penikahan

Beberapa hikmah pernikahan:

  • keperluan biologis manusia dengan metode yang suci serta halal
  • kesucian serta kehormatan dari perbuatan zina
  • rumah tangga islami yang sejahtera lahir serta batin
  • anak-anak menjadi mulia serta memelihara nasab
  • sunah rasul serta buat menaikkan ibadah kepada Allah Swt
  • rasa tanggung jawab dalam rangka memelihara serta mendidik anak
  • tanggung jawab antara suami dengan istri yang sepanjang ini masih dipikul sendiri-sendiri
  • keluarga kedua pisah pihak

D. Putusnya Perkawinan

Allah Swt. menjadikan pernikahan sebagai sesuatu ikatan yang sakral serta suci. Akan tetapi, ikatan yang suci itu dalam kondisi terdefinisi jelas terpaksa putus. pengakibat putusnya pernikahan sebagai berikut

  1. Meninggal Dunia
  2. Perceraian, pengakibat perceraian adalah
  3. Talak ialah memutuskan pernikahan yang sudah dijalin oleh suami istri. Talak merupakan alternatif terakhir bila pernikahan telah tak bisa jadi dipertahankan lagi. Allah Swt. berikan hak talak sejumlah tiga kali
  4. Khulu’. (talak tebus) merupakan talak yang diucapkan suami dengan metode istri membayar ganti rugi atau mengembalikan mahar yang pernah diterima dari suami
  5. merupakan batalnya akad atau lepasnya janji perkawinan antara suami istri yang dikarenakan terjadinya masalah terhadap akad itu sendiri, atau dikarenakan hal-hal yang datang setelah itu yang mengakibatkan akad tak bisa dilanjutkan. Fasakh yang dikarenakan ada masalah yang berlangsung dalam akad nikah, layaknya berikut:
  • Setelah akad dilakukan, dikenal jikalau pasangan itu nyatanya saudara sekandung, seayah seibu, atau saudara sepersusuan
  • bila suami istri dahulunya non-Islam, setelah itu istrinya masuk Islam. terhadap saat itu juga akad tersebut batal pasal muslimah dilarang menikah dengan laki-laki musyrik
  • Jika salah seorang dari suami istri murtad atau keluar dari agama Islam buat selaman

E. Ketentuan Pernikahan rujukan oleh Perundang-undangan di Indonesia

Di Indonesia undang-undang yang membahas mengenai pernikahan ialah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 mengenai Perkawinan sebagai berikut:

  • Tujuan Perkawinan (pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974)
  • Pencatatan Perkawinan (Pasal 2)
  • Larangan Perkawinan (Pasal 8)
  • Batalnya Perkawinan (Pasal 22, 23)
  • Penyebab Putusnya Perkawinan ( karena 38)
  • Akibat Putusnya Perkawinan ( karena 41)
  • Kedudukan Anak (Pasal 42, 43, 44,)
  • Perkawinan di Luar Indonesia (Pasal 56)
  • Perkawinan Campuran (Pasal 57)

 

 

 

 

Tags :