HOME
Home » AGAMA ISLAM » PROSES PERAWATAN JENAZAH SECARA ISLAMIYAH

PROSES PERAWATAN JENAZAH SECARA ISLAMIYAH

Posted at August 13th, 2018 | Categorised in AGAMA ISLAM

PROSES PERAWATAN JENAZAH SECARA ISLAMIYAH

Apabila seseorang telah dinyatakan positif meninggal dunia, ada beberapa hal yang harus disegerakan dalam pengurusan jenazah. Berikut ini  PROSES PERAWATAN JENAZAH SECARA ISLAMIYAH, yaitu: memandikan, mengafani, menyalati dan menguburnya. Namun, sebelum mayat itu dimandikan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terhadap kondisi jenazah, yaitu seperti berikut.

  1. Pejamkanlah matanya dan mohonkanlah ampun kepada Allah Swt. atas segala dosanya.
  2. Tutuplah seluruh badannya dengan kain sebagai penghormatan dan agar tidak kelihatan auratnya.
  3. Ditempatkan di tempat yang aman dari jangkauan binatang.
  4. Bagi keluarga dan sahabat-sahabat dekatnya tidak dilarang mencium si mayat
  5. Menyembunyikan Rahasia Mayat
  6. Menyegerakan Pelunasan Hutang-hutangnya.
  7. Mengqada Nazar Jenazah Oleh Walinya
  8. orang-orang yang masih hidup hendaknya mengucapkan kalimat istirja, yaitu inna- lilla-hi wa inna- ilaihi ra-ji‘u-n.
  9. Tangan jenazah hendaknya segera disedekapkan dengan cata tangan kanan berada di atas tangan kiri dan diletakkan di dada jenazah.
  10. orang-orang yang masih hidup hendaknya segera mempersiapkan segala keperluan yang berkaitan dengan pengurusan jenazah.

Memandikan Jenazah

Syarat-syarat wajib memandikan jenazah diantaranya:

  • Jenazah tersebut meninggal dalam keadaan Muslim. Jika seseorang meninggal dalam keadaan murtad dari Islam, maka tidak berlaku bagi mereka ketentuan penyelenggaraan jenazah menurut syariat Islam.
  • Ada tubuhnya, meskipun potongan daging. Jika jasadnya hilang atau lenyap tak tersisa, tidak ada kewajiban untuk memandikannya.
  • Meninggal bukan karena perang di jalan Allah (mati syahid). Orang yang mati karena perang di jalan Allah, tidak boleh dimandikan, akan tetapi langsung dikuburkan bersama dengan bajunya

Yang berhak memandikan jenazah

  1. Apabila jenazah itu laki-laki, yang memandikannya hendaklah laki-laki pula. Perempuan tidak boleh memandikan jenazah laki-laki, kecuali istri dan mahram-nya.
  2. Apabila jenazah itu perempuan, hendaklah dimandikan oleh perempuan pula, laki-laki tidak boleh memandikan kecuali suami atau mahram-nya.
  3. Apabila jenazah itu seorang istri, sementara suami dan mahram-nya ada semua, suami lebih berhak untuk memandikan istrinya. Apabila jenazah itu seorang suami, sementara istri dan mahram-nya ada semua, istri lebih berhak untuk memandikan suaminya. Kalau mayat anak laki-laki masih kecil, perempuan boleh memandikannya. Begitu juga kalau mayat anak perempuan masih kecil, laki-laki boleh memandikannya.

Berikut ini tata cara memandikan jenazah :

  1. Persiapkan tempat yang terlindung dari pandangan banyak orang. Jenazah diletakkan di atas balai-balai atau tempat yang tinggi atau tempat khusus untuk memandikan jenazah. Meskipun berada di tempat tertutup, aurat jenazah hendaknya tetap dalam keadaan tertutup dari pandangan orang yang memandikannya. Misalnya ditutup dengan kain basahan atau sarung agar mudah memandikannya.
  2. Mulailah memandikannya dengan bacaan basmalah.
  3. Urut bagian perut dan tekan pelan-pelan agar kotoran yang mungkin ada keluar kemudian dibersihkan.
  4. Kotoran yang ada pada kuku jari tangan dan kaki dibersihkan. Selanjutnya, bersihkan mulut, gigi, lubang di telinga, hidung, dubur, dan qubul.
  5. Ratakan air ke seluruh tubuh jenazah. Pergunakan air yang suci dan menyucikan. Setelah air merata ke seluruh tubuh kemudian sabunilah dan siram kembali hingga bersih. Lakukan minimal satu kali setelah najis-najisnya dapat dihilangkan. Disunahkan melakukannya tiga kali, lima kali, atau dengan bilangan ganjil.
  6. Sisir rambut dan janggut agar air dapat merata ke seluruh kulit
  7. Wudukan sebab akan disalatkan
  8. . Terakhir siram dengan air yang dicampur kapur barus, daun bidara, atau bahan lain yang berbau harum
  9. Keringkan dengan handuk atau alat pengering lain. Air untuk memandikan mayat sebaiknya dingin. Kecuali udara sangat dingin atau terdapat kotoran yang sulit dihilangkan, boleh menggunakan air hangat. Setelah dimandikan pindahkan jenazah ke tempat lain yang bersih.

Mengkafani Jenazah

Mengafani jenazah dapat dilakukan dengan kain apa saja asal dapat menutupi tubuh jenazah. Kain kafan yang digunakan hendaknya kain putih yang bersih serta dapat menutup seluruh tubuh jenazah. Kain kafan minimal terdiri atas satu lapis kain yang menutupi seluruh badan jenazah, baik jenazah laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi, sebaiknya kain kafan berjumlah tiga lapis untuk laki-laki dan tiap-tiap lapis menutupi seluruh badannya. Jenazah perempuan sebaiknya dikafani dengan lima lapis kain. Lima lapis kain tersebut dipergunakan untuk basahan (kain bawah), baju, tutup kepala, kerudung (cadar), dan kain yang menutupi seluruh badannya.

Caranya menyusun kain kafan untuk laki-laki adalah sebagai berikut;

  1. kain kafan dihamparkan sehelai-sehelai.
  2. Di atas tiap-tiap lapis kain ditaburkan wewangian misalnya kapur barus.
  3. Selanjutnya, jenazah diletakkan di atasnya.
  4. Kedua tangan jenazah diletakkan di atas dada, tangan kanan di atas tangan kiri.
  5. kain kafan diletakkan seperti cara pertama, tetapi jenazah diberi ”baju” dari potongan kain yang dibentuk seperti baju. ”Baju” tersebut terdiri atas sarung yang melilit di pinggang hingga kaki, baju atas, dan kopiah. Setelah semua siap, jenazah dibungkus dengan kain kafan yang menutup seluruh badan dengan rapat.
  6. Cara mengafani jenazah perempuan yaitu mula-mula dipakaikan kain basahan, baju, tutup kepala, lalu kerudung. Selanjutnya, dimasukkan ke dalam kain yang meliputi seluruh tubuh jenazah.
  7. Setelah perangkat kain kafan disiapkan, jenazah diletakkan di atasnya dan siap untuk dibungkus. Berilah wewangian pada jenazah saat dikafani. Selanjutnya, tarik kain kafan agar rapi dan dapat menyelimuti seluruh tubuh jenazah kemudian ikat dengan tali kain.
  8. Tali kain untuk jenazah dewasa berjumlah tujuh, yaitu untuk bagian atas kepala, leher, dada, pinggang, lutut, mata kaki, dan untuk ujung bawah tubuh. Jumlah tali kain untuk jenazah anak-anak atau bayi disesuaikan dengan kebutuhan asalkan dalam jumlah ganjil. Tali-tali tersebut diikatkan di sebelah kiri jenazah dengan simpul hidup. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan membukanya pada saat dikuburkan. Orang yang sedang melaksanakan ihram kemudian meninggal, jenazahnya tidak diberi wangi-wangian dan tidak ditutup kepalanya.

Menyalati Jenazah

Salat jenazah dilaksanakan untuk mendoakan jenazah. Hukum melaksanakan salat jenazah menurut jumhur ulama adalah fardu kifayah.  Salat jenazah terdiri atas empat takbir dan ditutup dengan salam.

Syarat Shalat Jenazah

Sebagaimana salat yang lain, salat jenazah memiliki beberapa syarat yang mesti dipenuhi. Adapun syarat menyalati jenazah sebagai berikut.

  1. Syarat-syarat salat yang lain juga menjadi syarat salat jenazah. Misalnya menutup aurat, suci badan dan pakaian, dan menghadap kiblat.
  2. Salat jenazah dilaksanakan sesudah jenazah dimandikan dan dikafani.
  3. Jenazah diletakkan di arah kiblat orang yang menyalati, kecuali jika salat jenazah dilaksanakan di atas kubur atau salat gaib. Pada jenazah laki-laki, orang yang menyalatkan (imam salat) berdiri di arah kepala jenazah. Pada jenazah perempuan, orang yang menyalatkan (imam salat) berdiri di arah perut atau pinggang jenazah

Rukun Shalat Jenazah

Salat jenazah memiliki beberapa rukun sebagai berikut.

  1. Niat melaksanakan salat jenazah. Sambil takbir dalam hati niat “Aku berniat ṡalat atas jenazah ini empat takbir fardu kifayah sebagai makmum karena Allah ta’ala.”
  2. Takbir empat kali dengan takbi-ratul ih.ra-m.
  3. Membaca Surah al-Fa-tih.ah [1] sesudah takbi-ratul ih.ra-m selesai takbir pertama.
  4. Membaca salawat atas Nabi saw. setelah takbir kedua. Rasulullah saw. “Allahumma sholli alaa muhammad wa ala aali muhammad”.
  5. Mendoakan jenazah sesudah takbir ketiga. “Allahummagh firlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu..” untuk laki-laki. Untuk perempuan lafadz “hu” diganti “ha”.
  6. Takbir yang keempat, dilanjutkan dengan membaca doa “Allahumma la tahrim naa ajrahu walaa taftinnaa ba’dahu waghfirlanaa walahu..” untuk laki-laki. Untuk perempuan lafadz “hu” diganti “ha”.
  7. Membaca salam sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

Do’a yang dibaca setelah takbir ketiga dan keempat disesuaikan dengan jenis kelamin jenazahnya.

  1. Apabila jenazahnya wanita, damir/kata ganti hu diganti dengan kata ha.
  2. Apabila jenazahnya dua orang, damir/kata ganti hu diganti dengan huma.
  3. Apabila jenazahnya banyak, maka damir/kata ganti hu diganti Dengan “hum” untuk laki-laki atau “hunna” untuk perempuan.

Mengubur Jenazah

Jenazah telah siap dikubur atau dimakamkan setelah dimandikan, dikafani, dan disalati.

  1. Rasulullah saw. menganjurkan agar jenazah segera dikuburkan
  2. Sebaiknya menguburkan jenazah pada siang hari. Mengubur mayat pada malam hari diperbolehkan apabila dalam keadaan terpaksa atau karena sesuatu hal lain yang harus disegerakan untuk dikubur.
  3. Lubang kubur hendaknya dipersiapkan terlebih dahulu. Lubang kubur hendaknya dibuat cukup dalam kira-kira setegah badan orang dewasa dengan lebar lebih kurang satu meter. Lubang kubur dibuat cukup dalam agar tidak mengeluarkan bau busuk dan tidak mudah dibongkar oleh binatang buas.
  4. Di dasar lubang yang telah dibuat, buatlah kembali lubang yang lebih sempit untuk meletakkan jenazah. Lubang sempit tersebut dapat dibuat dengan dua cara. Pertama, berbentuk liang lahat yaitu relung sempit selebar dan sepanjang badan jenazah yang terletak di tengah-tengah kubur atau lubang yang pertama. Kedua, berbentuk liang harsy yang berupa relung sepanjang dan selebar badan yang terletak di salah satu sisi kubur.
  5. Pada saat memasukkan jenazah ke liang lahat disunahkan membaca doa seperti berikut. “bismillahi waala millati rasull lilllahi”
  6. Jenazah diletakkan dalam posisi miring menghadap kiblat. Sebagai penyangga kita boleh mengganjal punggung dan belakang kepala jenazah dengan tanah yang dikeraskan.
  7. Selanjutnya, tali-tali yang mengikat jenazah dilepaskan dan bagian muka serta kaki dibuka sedikit agar pipi kanan dan ujung kaki jenazah menempel di tanah.
  8. Liang lahat kemudian ditutup dengan papan atau kayu dan ditimbun dengan tanah. Timbunan tanah boleh ditinggikan lebih kurang satu jengkal dan memberinya tanda dengan batu nisan.
  1. Selanjutnya, umat Islam yang masih hidup hendaknya memohonkan ampun untuk si jenazah.
  2. Larangan memperindah kuburan. Jabir ra. menerangkan, “Rasulullah saw. melarang mengecat kuburan, duduk, dan membuat bangunan di atasnya.” (HR. Muslim)
  3. Tidak diperbolehkan mengubur dua jenazah atau lebih dalam satu kuburan, kecuali dalam keadaan darurat, seperti korban perang, atau orang-orang yang mati syahid.
  4. Jenazah hendaknya dikuburkan di daerahnya, dan jangan dipindahkan ke daerah yang lain.

Takziyah (Melayat atau Menghibur)

Ta’ziyyah atau melayat adalah mengunjungi orang yang sedang tertimpa musibah kematian salah seorang keluarganya dalam rangka menghibur atau memberi semangat.

Adab (etika) orang ber-ta’ziyyah antara lain seperti berikut.

  1. Menyampaikan doa untuk kebaikan dan ampunan terhadap orang yang meninggal serta kesabaran bagi orang yang ditinggal.
  2. Hindarilah pembicaraan yang menambah sedih keluarga yang ditimpa musibah.
  3. Hindarilah canda-tawa apalagi sampai terbahak-bahak.
  4. Usahakan turut menyalati mayat dan turut mengantarkan ke pemakaman sampai selesai penguburan.
  1. Membuatkan makanan bagi keluarga yang ditimpa musibah
  2. Memberi bantuan baik berupa uang atau yang lainnya yang dibutuhkan jenazah.
  3. Memberi nasihat kepada keluarga jenazah yang ditinggalkan untuk bersabar, tawakal serta meningkatkan ketakwaannya kepada Allah Swt., Mengingatkan keluarga jenazah apabila jenazah mampunyai hutang untuk segara dilunasi.

Ziarah Kubur

Ziarah artinya berkunjung, kubur artinya kuburan. Ziarah kubur artinya berkunjung ke kuburan. Awalnya Rasulullah saw. melarang umat Islam untuk berziarah kubur karena dikhawatirkan akan melakukan sesuatu hal yang tidak baik, misalnya menangis di atas kuburan, bersedih, meratapi, bahkan yang lebih bahaya adalah mengultuskan mayat yang ada di kuburan. Akan tetapi, karena mengingat mati itu penting, dan di antara mengingat mati adalah ziarah kubur, Rasulullah saw. menganjurkan berziarah dengan tujuan untuk mengingat mati.

Apabila kita mau berziarah kubur, sebaiknya perhatikan adab atau etika berziarah kubur, yaitu seperti berikut :

  1. Ketika mau berziarah, niatkan dengan ikhlas karena Allah Swt., tunduk hati dan merasa diawasi oleh Allah Swt.
  2. Sesampai di pintu kuburan, ucapkan salam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw.:
  1. Tidak banyak bicara mengenai urusan dunia di atas kuburan.
  2. Berdoa untuk ampunan dan kesejahteraan si mayat di alam barzah dan akhirat kelak.
  3. Diusahakan tidak berjalan melangkahi kuburan atau menduduki nisan (tanda kuburan).
Tags :